bale istriYani Sutirah (39), adalah pendiri komunitas Bale Istri di Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung. Selain berjuang agar perempuan mendapatkan akses pendidikan yang sama dengan komunitas, ia pun banyak bekerja untuk mengkampanyekan anti-kekerasan terhadap perempuan terutama mencegah pernikahan anak dan kekerasan dalam rumah tangga.

“Tahun 1990,  ketika pernikahan dini masih marak di Arjasari, saya yang saat itu hanya lulusan SD terpaksa harus menikah di usia saya yang masih 13 tahun. Di usia yang masih sangat muda, saya menjalani keseharian sebagai ibu rumah tangga, ngarambet-nandur (bertani) dan sesekali mengajar ilmu agama di sekolah agama di kampung saya.”

Ia pun mengungkapkan, tak ada yang aneh dengan pernikahan dini di daerahnya. Anak perempuan yang sudah lulus SD atau SMP,  biasanya langsung dinikahkan. Jika kemudian rumah tangganya ada masalah, baik itu kekerasan bahkan berujung perceraian, hal tersebut jadi urusan pribadi keluarga. Orang lain tidak bisa ikut campur.

Yani menceritakan, di akhir tahun 2007, SAPA melakukan sosialisasi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan isu pernikahan dini di Kecamatan Arjasari. Saat itu ia ikut menghadiri dan kemudian menyadari bahwa pernikahan dini merupakan masalah yang mesti ditangani di daerahnya. Angka pernikahan dini yang saat itu masih tinggi di Arjasari, menginspirasinya untuk turut mendirikan komunitas Bale Istri awal tahun 2008, mengikuti Bale Istri yang lebih dulu terbentuk di Kecamatan Paseh yang diinisiasi SAPA.

Setelah terbentuknya Bale Istri di Arjasari, Yani bersama beberapa temannya mengajak perempuan lainnya untuk berkumpul di Bale Istri dan terlibat mengikuti pertemuan atau pelatihan adil gender yang diadakan oleh SAPA. Ilmu tentang gender dan kesehatan reproduksi yang ia dan teman-temannya dapatkan dari pelatihan secara rutin mereka diskusikan. Pengetahuan adil gender pun ia sampaikan ketika ada waktu berceramah di pengajian dan sekolah agama tempatnya mengajar.

“Bale Istri sangat penting bagi saya. Pertemuan diskusi dan pelatihan membuat saya lebih paham permasalahan dan lebih berani berbicara. Dulu, bicarapun malu tak tak percaya diri. Kini, di setiap pengajian, pertemuan warga dan saat mengajar bahkan di depan bu Bupati, saya lebih berani berbicara, lebih lancar menyampaikan dengan bahasa saya sendiri tentang isu dan pengetahuan-pengetahuan yang selama ini saya dapat dari komunitas.”

Selain ia kini lebih aktif dan lebih berani berbicara di beberapa organisasi yang membuatnya pernah diganjar sebagai kader PKK terbaik, ia pun lebih percaya diri menjalani usaha sekaligus hobinya menjahit pesananan pakaian orang lain. Ia bersyukur, Bale Istri menyadarkan juga bahwa pendidikan bagi perempuan sangat penting. Bahkan kini ia memberanikan diri untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat S1. “Saya kini bisa kuliah. Karena pendidikan bagi saya sangat penting. Bagi saya, nilai ilmu lebih berharga dari harta, dengan ilmu perempuan jadi punya kesadaran dan perubahan hidup.”

Yani Sutirah dan kelompok perempuan lainnya di Bale Istri Arjasari terus berharap, mereka bisa meminimalisir pernikahan dini, KDRT dan mendampingi perempuan korban kekerasan di daerahnya. Yani mengakui ada resistensi dari beberapa kelompok laki-laki di wilayah mereka, baik dari suami maupun beberapa tokoh agama dan tokoh pemerintah yang lainnya di sekitar Bale Istri berada. “Perjuangan berat bagi kami, salah-satunya misalnya korban menolak untuk didampingi, hade goreng salaki urang cenah (baik buruk suami saya katanya). Apalagi ada ancaman pelaku.”

Persoalan tersebut kemudian mendorong Bale Istri menginisiasi lahirnya Bale Laki-laki sebagai kelompok pendukung yang akan memperkuat Bale Istri dalam mengkampanyekan isu-isu penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan pemenuhan hak seksual dan kesehatan reproduksi. Bale Istri pun mendorong lahirnya Bale Remaja, sebuah wadah di mana anak-anak remaja baik perempuan dan laki-laki berkumpul untuk berbicara tentang persoalan-persoalan kekerasan terhadap perempuan dan juga persoalan-persoalan hak seksual dan reproduksi di kelompok remaja.

Ia mengaku harus terus menyampaikan ilmu dan pemahaman bagi perempuan lainnya agar mereka lebih kritis melihat dan merasakan masalah kekerasan yang terjadi. “Saya juga ingin terus memberikan kesadaran bagi para remaja perempuan agar mereka tak bernasib seperti saya yang saat itu harus menyerah menikah di usia dini ketimbang mementingkan pendidikan.” *** (BTM)

Leave a comments