BAIS-300x229-1-300x229Hujan membuat jalan setapak di perbukitan Kecamatan Paseh, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, becek. Tanah merah itu terasa berat menempel di alas kaki. Namun, semua tak menghentikan langkah kaum ibu, anggota Bale Istri, untuk mengurangi maraknya kekerasan dalam rumah tangga.

Langkah” itu bertemu di rumah Sugih Hartini (36) di Kampung Pabeyan Pojok, Desa Cipaku, Kecamatan Paseh. Di rumah panggung berdinding bilik serta berlantai kayu pinus, enam perempuan mengeluarkan unek-unek berteman hujan dan teh panas.

Elah Nurlaelah (31), warga Kampung Ebah, Desa Cipaku, memaparkan pengamatannya di Kecamatan Paseh. Masih ada perempuan menikah dini bergulat dengan kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), putus sekolah, hingga ancaman kematian.

Cerita Ani Siti (46), penduduk Kampung Pabeyan, Desa Cipaku, lebih miris lagi. Ia berkisah tentang gadis korban pemerkosaan berusia 14 tahun yang mengalami pendarahan dan kini depresi berat. ”Kabarnya banyak kasus seperti ini, tetapi tidak tersampaikan,”
katanya.

Sri (34), warga Kampung Ebah, urun bicara. Menurut dia, beragam kejadian itu tidak boleh dibiarkan. Semuanya membuat korban masuk lingkaran setan tanpa ujung. ”Saya sedang mencoba bekerja sama dengan Rumah Sakit Majalaya, Kabupaten Bandung, menginformasikan korban depresi akibat kekerasan. Tak mudah bagi korban yang depresi menerima semuanya,” ungkap dia.

Sugih Hartini mengangguk setuju. Ia paham benar dengan derita kaumnya itu.
Mandiri

Awal 2000, Hartini menerima kenyataan pahit. Suaminya menikah lagi. Tanpa keahlian apa pun dan demi masa depan anak-anaknya, ia mencoba bertahan. Tujuh tahun kemudian, ia tertekan dan tidak kuat lagi. Ia meminta cerai, pergi dari Kota Bandung menuju Paseh membawa tiga anaknya.

”Sempat ingin bekerja di Arab Saudi karena saya butuh biaya untuk anak-anak,” ucapnya.

Hingga akhirnya, ia bertemu dengan kaum ibu dari Bale Istri Paseh, binaan Sapa Institute, pada 2007. Ia menemukan kenyataan banyak perempuan mengalami penderitaan yang lebih berat dibandingkan dirinya. Hal itu membuat Hartini bangkit.

Atas saran rekan-rekannya, ia mulai mandiri memproduksi keripik singkong dibantu modal dari Koperasi Bale Istri sebanyak Rp 2 juta. Usahanya maju. Omzetnya Rp 300.000 per hari. Cukup untuk membiayai makan dan sekolah ketiga anaknya. Ia pun bangga, apalagi saat anak sulungnya menjuarai lomba debat dalam bahasa Inggris se-Kabupaten Bandung. ”Sekarang saya ikut mendampingi beberapa saudara yang mengalami derita yang sama,” katanya.

Keberadaan Bale Istri tidak lepas dari kehadiran Sapa Institute. Sempat dicurigai hanya ingin mengeruk rupiah, lembaga yang bergerak dalam bidang anti kekerasan dan hak kesehatan perempuan ini memperlihatkan fakta tingginya kasus kekerasan di sekitar tempat tinggal warga, mulai dari pemukulan hingga penelantaran dengan beragam akibat negatifnya. ”Fakta itu membuat mereka ingin memiliki wadah berkomunikasi. Mereka tidak ingin KDRT jadi hantu,” kata Sri Mulyati, Direktur Eksekutif Sapa Institute.

Inisiatif itu membuahkan komunitas Bale Istri Paseh pada 2007. Dalam bahasa Indonesia, Bale Istri berarti ’tempat bernaung ibu’. Meski sebagian besar anggotanya ibu rumah tangga lulusan SD, kerja mereka melampaui pendidikan formalnya.

Tanpa bayaran, mereka mendata jumlah kasus kawin muda hingga kekerasan fisik dan psikis di Paseh. Anggota yang menjadi kader kesehatan juga aktif mendampingi pemeriksaan kesehatan dan memaparkan risiko pernikahan dini. ”Mereka menginspirasi pendirian 10 Bale Istri di Kabupaten Bandung. Anggotanya 25-200 orang per kelompok,” ujar Sri.

Sedikit demi sedikit, mereka berperan menguak kasus KDRT. Berdasarkan data Sapa Institute pada 2010-2013, KDRT yang tertangani di Kabupaten Bandung sebanyak 536 kasus, terbesar di Jabar. Namun, Sri yakin, jumlah itu hanya 10 persen dari total potensi kasus di Kabupaten Bandung. ”Semangat itu menyentuh suami mereka. Laki- laki mantan pelaku KDRT pun ada yang ikut mempromosikan untuk stop kekerasan,” kata Sri.
Ikut serta

Cahaya lampu jelas memperlihatkan kegelisahan Oman (39), warga Desa Ancol Mekar, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, saat dia bercerita pernah meninggalkan istrinya, Empat Patimah (35), pada 1995. Saat Empat hamil tiga bulan,
Oman memilih merantau ke Sumatera. Lelaki lulusan SD ini berjualan gorden akibat terbatasnya pilihan pekerjaan.

Pilihannya berisiko. Godaan di tanah rantau membuatnya lupa kepada anak dan istri. Tidak ada kabar yang ia layangkan. Selama tujuh bulan, ia hanya mengirimkan Rp 25.000. ”Saat pulang, anak sudah lahir dan berusia 50 hari. Uang ludes. Istri menanggung malu akibat ulah saya,” ujar Oman menyesal.

Kejadian itu menyadarkannya. Keputusannya keliru. Meski masih merantau, ia rutin berkirim kabar hingga mengirimkan nafkah. Ia baru berhenti merantau pada 2007 dan kini memilih jadi petani.

Tinggal di rumah, ia tahu istrinya aktif di Bale Istri Arjasari. Pertemuan rutin kerap dilakukan di rumahnya. Beragam topik pembicaraan di Bale Istri membuatnya sadar. Ia paham, menelantarkan istri termasuk KDRT. Oman semakin terkejut ternyata ada teman-temannya yang tega memukul istri.

Prihatin dengan keadaan itu, Oman memutuskan aktif di Bale Istri. Ia memberikan pemahaman kerugian KDRT di masa depan. ”Apabila nekat, maka akan berhadapan dengan saya, Bale Istri, dan hukum,” katanya.

Lis Yayah (35), warga lainnya, merasakan manisnya pendampingan oleh Oman dan istrinya. Kekerasan fisik dari suaminya kini tak dialaminya lagi.

KOMPAS, Cornelius Helmy

Leave a comments