4-Sikka-NTT-aksi-678x381Kekerasan seksual di ranah domestik maupun publik dialami oleh perempuan sepanjang siklus hidupnya. Hal ini terjadi karena ketimpangan relasi antara laki-laki dengan perempuan serta diperparah ketika satu pihak (pelaku) memiliki kendali lebih terhadap korban, baik dilakukan oleh individu, kelompok maupun aparat negara.

Peristiwa kekerasan seksual yang akhir-akhir ini menjadi perhatian publik di Indonesia adalah kasus yang dialami oleh YY (anak perempuan, 15 tahun) di Bengkulu. Pada 10 April 2016, korban ditemukan meninggal dunia akibat penyiksaan secara seksual sewaktu ia pulang dari sekolah oleh 14 pelaku (laki-laki usia 13-15 tahun). Peristiwa serupa juga terjadi di Cirebon, antara lain: ES (anak perempuan, 13 tahun) yang dilakukan oleh paman korban, Blv (anak perempuan ,12 th) di Jakarta diperkosa oleh gurunya, MY (anak perempuan, 6 tahun) yang diperkosa oleh ayah tirinya, dan NG (anak perempuan) yang tidak bisa mengikuti UN karena mengalami kekerasan seksual yang dilakukan secara berkelompok oleh pelaku yang juga teman sekolah korban.

Berdasarkan data kekerasan seksual di Jawa Barat dan DKI Jakarta, sepanjang tahun 2015 terdapat 215  kasus kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan. Artinya, setiap bulan ada 17 perempuan menjadi  korban kekerasan seksual. Tingginya angka kekerasan seksual di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, selama 12 tahun pencatatan kasus oleh Komnas Perempuan sejak tahun 2001 sampai 2012. Ditemukan setidaknya 35 perempuan di Indonesia yang menjadi korban kekerasan seksual setiap harinya.

Jika dibandingkan dengan data 3 tahun terakhir ini, Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Catahu Komnas Perempuan) tahun 2013, 2014 dan 2015, ditemukan bahwa kekerasan seksual merupakan bentuk kekerasan terhadap perempuan dengan jumlah kasus yang tertinggi dibandingkan kekerasan lainnya, yaitu sebesar 56%.

Berdasarkan Catahu Komnas Perempuan 2015, ada 6.499 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan, dimana bentuk kekerasan seksual adalah perkosaan sebanyak 72% atau 2.399 kasus, pencabulan 18% atau 601 kasus, dan pelecehan seksual 5% atau 166 kasus. Ilustrasi kasus-kasus kekerasan seksual serta catatan nasional di atas, jelas menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kondisi darurat kekerasan seksual terhadap perempuan.

Sebagai aksi solidaritas untuk YY dan perempuan korban kekerasan, Forum Pengada Layanan (FPL) dan jaringannya melakukan serangkaian aksi di berbagai kota untuk mengajak masyarakat umum untuk lebih peduli terhadap isu ini dan mendesak aparat penegak hukum segara memperoses kasus perkosaan yang dialami YY di Bengkulu, untuk mengungkap kebenaran dan pengakuan bahwa kekerasan seksual yang dialami oleh korban sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia. Selain itu FPL juga mendesak agar DPR RI segara membahas dan mengesahkan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual untuk menjamin kewajiban negara dalam mencegah kekerasan seksual, dan menangani dan memulihkan hak korban.

FPL merupakan forum yang terdiri dari lembaga-lembaga yang memiliki visi untuk penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan meningkatkan dukungan, tanggungjawab negara dan masyarakat dalam memenuhi hak-hak perempuan korban kekerasan. FPL melakukan kerja-kerja  pendampingan dan pemulihan terhadap perempuan korban kekerasan di seluruh Indonesia yang beranggotakan 112 lembaga dan tersebar di 28 provinsi.

Dilaporkan oleh: Veni Siregar (Juru Bicara Forum Pengada Layanan Jawa Barat dan DKI Jakarta)

Leave a comments